Surabaya, Indonesia – Siapa bilang anak muda hanya sibuk bermain media sosial? Sekelompok pelajar dari Surabaya berhasil membuktikan bahwa generasi muda Indonesia juga bisa menjadi bagian penting dalam solusi global untuk krisis energi. Melalui proyek riset energi terbarukan bertajuk “Smart Energy for Smart Capital”, mereka sukses mengantarkan nama Indonesia ke panggung internasional dalam konferensi ilmiah di Jerman, membawa semangat Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai simbol masa depan hijau dan berkelanjutan.
Fenomena ini bukan sekadar pencapaian akademik, tapi juga menjadi refleksi bahwa perubahan besar bisa datang dari ruang-ruang kelas dan laboratorium sekolah. Ini bukan hanya soal trofi atau medali, tapi tentang menjadikan riset sebagai jembatan menuju peradaban baru yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dari Surabaya ke Jerman: Riset yang Mendunia
Riset yang dilakukan oleh lima pelajar dari SMA Negeri unggulan di Surabaya ini awalnya merupakan proyek lomba ilmiah tingkat kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur. Tak disangka, karya mereka yang mengembangkan prototipe “Micro Smart Grid berbasis tenaga surya dan biomassa” untuk wilayah IKN berhasil memukau juri dan pakar energi nasional.
Setelah melalui seleksi ketat, tim ini diundang oleh International Youth Energy Forum di Hamburg, Jerman, untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan peneliti dan aktivis energi terbarukan dari 38 negara.
“Saya masih nggak nyangka. Dari maket sederhana di laboratorium sekolah, kami sekarang diundang ke Jerman. Kami cuma ingin menunjukkan kalau IKN harus punya sistem energi yang cerdas dan ramah lingkungan sejak awal,” ujar Firdaus, salah satu anggota tim riset, dengan penuh semangat.
Fokus pada IKN: Ibu Kota yang Tak Sekadar Pindah Lokasi
Apa yang membuat riset mereka begitu relevan?
IKN, yang tengah dalam proses pembangunan di Kalimantan Timur, dirancang sebagai kota masa depan berbasis teknologi hijau. Pemerintah menargetkan 80% kebutuhan energi IKN berasal dari sumber terbarukan. Tapi konsep ini tentu memerlukan sistem terintegrasi, teknologi tepat guna, serta partisipasi warga dari berbagai generasi.
Riset para pelajar ini memadukan panel surya portabel dengan pengolah biomassa dari limbah pertanian lokal Kalimantan. Sistemnya terkoneksi dengan smart inverter dan dapat dipantau melalui aplikasi berbasis IoT. Selain itu, mereka menambahkan fitur pengukur karbon yang memungkinkan warga IKN untuk mengetahui jejak karbon mereka secara real time.
“Bayangkan warga di IKN bisa tahu berapa besar kontribusi mereka dalam menekan emisi hanya lewat HP mereka. Ini soal literasi energi, dan anak-anak SMA Surabaya ini sudah memulainya,” kata Dr. Yusuf Hidayat, pengamat energi dari ITS Surabaya.
Dukungan Pemerintah dan Kolaborasi Dunia Pendidikan
Prestasi ini tak mungkin terjadi tanpa dukungan lintas sektor. Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga perguruan tinggi seperti ITS dan Universitas Airlangga turut mendampingi proses pengembangan riset.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahyu Suprapto, mengatakan bahwa inisiatif riset energi terbarukan telah masuk dalam program Green School Initiative yang digulirkan sejak 2022.
“Kami ingin membiasakan siswa untuk berpikir sebagai problem solver. Ketika ada isu seperti transisi energi, anak-anak tidak hanya jadi penonton tapi juga pelaku. Riset mereka soal IKN adalah contoh konkret,” ujarnya.
Viral di Media Sosial: Generasi Muda Bicara Energi
Tak hanya dibicarakan di forum ilmiah, keberhasilan para pelajar ini juga viral di media sosial. Video presentasi mereka di Jerman diunggah oleh salah satu akun edukasi dan ditonton lebih dari 1,2 juta kali di TikTok dalam dua hari. Banyak netizen menyatakan rasa bangganya dan berharap pemerintah bisa memfasilitasi mereka lebih lanjut.
“Salut! Anak-anak ini nggak cuma pintar, tapi juga punya visi,” komentar akun @bintangcerah di Instagram.
Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam pernyataan resmi di akun X (Twitter), turut mengapresiasi dan mengundang tim pelajar tersebut untuk audiensi di Jakarta.
Masa Depan Mereka dan Harapan untuk IKN
Kini, kelima pelajar tersebut tengah dipersiapkan untuk magang riset di Jerman selama dua bulan ke depan. Mereka juga telah ditawari beasiswa oleh beberapa universitas luar negeri yang tertarik dengan inovasi mereka.
Namun, mereka justru punya visi yang lebih besar.
“Setelah selesai kuliah, kami ingin kembali dan terlibat langsung dalam pembangunan IKN. Kami ingin ide kami benar-benar diterapkan di sana, bukan cuma jadi bahan lomba,” ucap Dita, anggota tim perempuan yang juga merancang sistem monitoring emisi dalam proyek tersebut.
Menyalakan Lilin di Tengah Krisis Energi
Apa yang dilakukan pelajar Surabaya ini mengingatkan kita bahwa solusi besar sering kali datang dari keberanian kecil untuk mencoba. Di tengah isu krisis energi global, mereka memilih untuk tidak menyerah pada narasi pesimisme. Mereka menyalakan lilin—dan cahayanya kini menerangi dunia.
IKN, sebagai simbol Indonesia masa depan, membutuhkan lebih dari sekadar dana triliunan atau proyek infrastruktur raksasa. Ia butuh ide, semangat, dan inovasi dari generasi yang akan menghuninya.
Dan anak-anak muda dari Surabaya telah lebih dulu melangkah.
